Selama ini saya merasa nyaman menabung di bank konvensional, banyaknya informasi tentang bank syariah cukup mengusik saya untuk mengetahui lebih jauh tentang bank syariah. Dan setelah mengetahui segala kelebihannya terus terang saya menyesal. Menyesal kenapa tidak dari dulu menabung di bank syariah.

Saya membuka rekening di sebuah bank syariah milik pemerintah. Mengambil jenis simpanan dalam mata uang rupiah berdasarkan prinsip Wadiah. Arti dari Wadiah sendiri dalam bidang ekonomi syariah adalah titipan nasabah yang harus dijaga dan dikembalikan setiap saat nasabah yang bersangkutan menghendaki. Bank bertanggungjawab atas pengembalian titipan tersebut.

Karakteristik dari tabungan ini yaitu : berdasarkan prinsip Syariah dengan akadWadiah , setoran minimal yang ringan dan terjangkau, tabungan dengan bonus yang menarik, aman dan terjamin , dilengkapi dengan Kartu ATM sekaligus Kartu Debet ( Optional ) dan dapat ditarik/setor setiap saat di seluruh cabang.

Sedangkan manfaatnya adalah dana aman dan tersedia setiap saat, Transaksi online di seluruh cabang, Mendapatkan kartu ATM sekaligus debet dan mendapat bagi hasil yang kompetitif. Selain itu, biaya administrasi bulannya sangat murah atau hasil dari bonus bagi hasil dan tidak memotong tabungan pokok. Tabungan ini merupakan salah satu produk dari puluhan produk yang dikeluarkan oleh bank syariah.

Berdasarkan karakteristik dan manfaat tabungan diatas sebenarnya hampir sama dengan tabungan di bank konvensional. Namun yang membedakan adalah prinsip, bank syariah menggunakan prinsip  bagi hasil, sedangkan di bank konvensional menggunakan prinsip pemberian bunga. Bunga bank (menurut sebagian pendapat) termasuk riba. Inilah perbedaan yang cukup signifikan antara bank konvensional dan bank syariah.

Secara umum, Riba artinya menetapkan bunga atau melebihkan jumlah saat pengembalian (berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok) yang dibebankan kepada si peminjam. Riba secara bahasa mempunyai makna: ziyadah atau tambahan. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan dalam Islam.

Riba bukan hanya persoalan ummat Islam, tapi berbagai agama di luar Islam pun memandang serius masalah riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dihitung mundur sampai lebih dari 2.000 tahun silam. Persoalan riba telah menjadi bahasan kalangan bangsa Yahudi, Yunani, Romawi dan ummat kristen.

Dalam Islam, riba termasuk haram. Dalam Al Quran Surat Al Baqarah ayat 275 : …padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa bunga bank konvesional termasuk riba karena telah ditetapkannya akad di pada awal menabung. Jadi ketika kita sudah menabung dengan suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti. Sedangkan prinsip bagi hasil hanya memberikan nisbah (perbandingan) bagi hasil bagi penabung atau deposannya. Dampak dari sistem bunga akan terasa pada transaksi selanjutnya, yaitu bila akad ditetapkan di awal dan hasil persentase yang didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran bank untuk menutupi jumlah bunga tersebut adalah para peminjam modal alias pengusaha atau wiraswasta. Dan akhirnya kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam alias para pengusaha dan wiraswasta tadi. Berbeda dengan sistem bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada penabung atau deposannya. Maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat, kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Contoh nisbah adalah 60:40, maka pembagiannya adalah deposan 60% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank.

Mengenai riba, suatu saat Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam bersabda “akan datang masa ketika mereka yang tidak mau makan riba pun terkena debunya.” Artinya pada masa itu kita tak bisa menghindari riba. Semua tata kehidupan sudah terkontaminasi oleh riba, walaupun cuma debunya saja.

Coba perhatikan kondisi sekarang, ketika kita hendak memiliki rumah atau kendaraan harus membayar  dengan kredit dari bank, karena harga yang tidak terjangkau. Lebih dari itu, untuk kebutuhan sekunder pun, seperti untuk biaya pendidikan, ongkos kesehatan,  hiburan juga menggunakan kredit bank. Lewat jalan tol pun sudah termasuk dalam sistem riba karena pembiayaannya dari perbankan. Sepertinya jaman yang dimaksud Rasullullah SAW mirip dengan jaman sekarang. Wallahu’alam Bishawab.

Allah SWT akan memberikan hukuman yang berat para pelaku riba. Dosa yang ditanggung adalah dosa kedua terbesar karena keterlibatan dengan riba (sesudah syirik). Rasulullah SAW telah pula menegaskan bahwa kedudukan mereka yang terlibat dengan riba (baik secara langsung atau tidak langsung) yaitu yang membayarkan, yang menerima, yang mencatat, dan yang membiarkannya, adalah sama kedudukannya. Semuanya berdosa.

Itulah yang membuat saya merasa menyesal mengapa tidak dari dulu membuka rekening di bank syariah. Sudah puluhan tahun riba itu masuk dalam darahku, sudah belasan tahun masuk dalam darah daging anak-anak dan isteriku.  Ya Allah ampunilah dosa hambaMu ini.

Sebelum terlambat, sebelum menyesal dikemudian hari, sebelum ditanya malaikat, sebelum diminta pertanggung jawaban diakhirat nanti, segera “hijrah” ke bank syariah, Insya Allah  barokah.

Amin

 

Sumber : http://ib-bloggercompetition.kompasiana.com/2010/05/11/saya-menyesal-menabung-di-bank-syariah-138768.html


Reporter : Nusantara Condet


Share to Facebook